Mendapatkan pertanyaan mengenai ketua Sekte, Tetua Xie terdiam sesaat, napasnya tersengal. Kemudian, dengan suara bergetar, ia berkata, "Ketua Sekte… dia tidak akan kembali." Tetua Xie memulai rencananya untuk mengadu domba sekte Api Langit dengan orang misterius tersebut.

Kata-kata Tetua Xie bagaikan petir yang menyambar seluruh sekte.

"Apa maksudnya, Tetua Xie?! Apa maksudmu dengan mengatakan Ketua Sekte tidak akan kembali? Dimana Ketua Sekte sekarang?" seorang tetua bertanya dengan suara putus asa. Dia berharap maksud ucapan Tetua Xie tersebut tidak seperti yang dia pikirkan.

Tetua Xie menghela napas panjang, lalu dengan ekspresi penuh duka, ia mulai berbicara. "Setelah aku dan ketua sekte di bawa pergi oleh Shen Mo, dia membawa kami melewati hutan di sebelah utara. Tapi ternyata bukan hanya dia satu-satunya pihak yang datang ke tempat kita untuk mendapatkan hal yang sama. Ada pihak lain yang juga mengincar kunci dimensi. Mereka bertarung dan pria tua itu, Shen Mo, karena sudah terluka, dia kalah dan melarikan diri.. Lalu, pria misterius itu muncul lagi."

Semua orang menahan napas.

"Awalnya, aku pikir dia akan menyelamatkan kami…" suara Tetua Xie melemah, seolah berat untuk melanjutkan. "Dia membantai semua musuh dengan kekuatan yang luar biasa. Tapi… setelah mengalahkan mereka, dia juga membunuh Ketua Sekte kita."

Keheningan yang mencekam menyelimuti sekte. Wajah-wajah para murid dipenuhi keterkejutan dan kebingungan.

"Bagaimana mungkin?" gumam seorang murid.

"Tapi dia menyelamatkan kita sebelumnya…" bisik murid lainnya, suaranya penuh keraguan.

Tetua Xie menundukkan kepala, ekspresi wajahnya penuh dengan kesedihan yang tampak nyata. "Aku melihatnya sendiri… Ketua Sekte sudah terluka parah dan juga terkena racun yang diberikan oleh Shen Mo selama ini, tetapi ketua sekte tetap berusaha bertahan. Namun, pria itu tidak memberinya kesempatan… dia menghabisinya begitu saja."

Beberapa murid mulai menggertakkan gigi, ekspresi mereka berubah dari ragu menjadi marah.

"Jadi benar dia hanya berpura-pura baik?! Sebenarnya dia juga mengincar kunci dimensi sama seperti yang lainnya!" seru seorang murid dengan penuh emosi.

"Lalu bagaimana kamu bisa kembali Xie Lian? Bagaimana kamu bisa membebaskan diri darinya dan dimana orang misterius itu sekarang berada?" tanya salah satu tetua dengan tatapan tajam, tangannya mengepal menahan emosi yang terasa mau meledak.

"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja dia menghilang setelah membunuh ketua sekte, tapi aku mendengar dia menyebut kata Shen Mo. Aku perkirakan dia mengetahui keberadaan pria tua itu dan mengejarnya." Kata tetua Xie dengan pura-pura gemetar.

Di sebuah kamar, Li Wei yang sedang merawat Ling Mei secara tidak sengaja mendengar keributan dan dia mendengar teriakan sedih dan tangis dari para murid sehingga dia keluar memeriksa. Dari para murid yang dilewatinya, Li Wei dapat mengetahui apa yang terjadi. Tubuhnya menegang, matanya membelalak.

"Tidak mungkin…" bisiknya, hatinya dipenuhi gejolak perasaan yang campur aduk. "Xiao Ling saat menemuiku terlihat biasa saja, bahkan mengkhawatirkan kak Ling Mei. Dia juga mengatakan sudah menyelamatkan ketua sekte dan tetua Xie. Selain itu dia juga mengatakan semua musuh sudah dimusnahkan serta anak buahnya melarikan diri, kenapa sekarang jadi berbeda dengan yang diceritakan?"

Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari menuju lapangan tempat Tetua Xie berada. Sesampainya di sana, ia menatap Tetua Xie dengan mata penuh ketidakpercayaan.

"Itu tidak benar!" seru Li Wei dengan suara lantang, membuat semua mata tertuju padanya.

Tetua Xie menoleh, ekspresinya tetap dingin meski tubuhnya tampak lemah. "Apa maksudmu, Li Wei?"

Li Wei menggertakkan giginya. "Aku tidak percaya bahwa dia membunuh Ketua Sekte! Dia tidak seperti itu!"

Tetua Xie menatapnya dengan tajam. "Kau membantah kata-kataku? jadi kamu menganggapku, tetua sekte ini sebagai pembohong? Kau lebih percaya seorang asing dibanding aku, yang sudah bertarung demi sekte ini?! Yang sudah turut membangun sekte ini?"

Li Wei mengepalkan tangan, menahan emosinya. "Aku hanya mengatakan ini tidak masuk akal! Dia tidak punya alasan untuk membunuh Ketua Sekte!"

Para murid mulai berbisik satu sama lain.

"Tapi Tetua Xie yang melihatnya sendiri…"

"Kenapa Li Wei begitu ngotot membela orang misterius itu?"

"Jangan-jangan dia tahu sesuatu?"

Tatapan Tetua Xie semakin tajam, seolah ingin menusuk Li Wei dengan matanya. "Li Wei, kenapa kau begitu gigih membelanya? Apa kau… punya hubungan dengannya?"

Li Wei terkejut, tetapi sebelum ia bisa menjawab, Tetua Lian melangkah maju.

"Cukup, Tetua Xie," katanya dengan suara dingin. "Li Wei tidak mengenal orang itu secara pribadi. Orang misterius itu hanya pernah menolong Li Wei sebelumnya seperti halnya menolong kita saat ini.."

Tetua Xie mengalihkan pandangannya ke arah para murid dan tetua lainnya. "Menolong kita menurutmu? Kalau begitu, jika kalian tidak percaya, kalian bisa pergi ke hutan di sebelah utara dan melihat buktinya sendiri."

Para murid, guru dan tetua sekte segera berseru setuju.

"Kita harus memastikan kebenarannya!"

"Jika memang benar orang misterius itu membunuh Ketua Sekte, kita tidak bisa membiarkannya begitu saja!"

Dengan perasaan yang dilema, frustasi dan tubuh lemas, mereka ingin melihat sendiri bukti yang dimaksud, semua orang segera bersiap menuju hutan sebelah utara.

Sementara itu, saat melihat kepergian mereka, Tetua Xie diam-diam segera pergi menuju ruang perpustakaan. Dia sudah pernah menyelidikinya dan untuk masuk dia harus menggunakan cincin ketua sekte. Dia menyelipkan tangannya ke balik jubahnya dan menarik keluar sebuah cincin yang ia sembunyikan, cincin yang diambil dari ketua sekte setelah membunuhnya. Senyum tipis tersungging di bibirnya.

"Semua berjalan sesuai rencana…" bisiknya pelan.

Saat rombongan di gerbang utama Sekte Api Langit, para tetua segera menyadari bahwa hampir seluruh guru dan murid ikut serta dalam rombongan. Tatapan khawatir terpancar di wajah mereka. Dengan kondisi sekte yang sedang dalam keadaan terlemah, membiarkannya kosong sepenuhnya akan menjadi keputusan yang berbahaya.

"Kita tidak bisa pergi semua. Sekte harus tetap dijaga. Jika terjadi sesuatu, kita tidak akan memiliki kekuatan untuk melawan," ujar salah satu tetua dengan tegas.

Para murid dan beberapa guru yang tadinya bersemangat segera terdiam. Mereka sadar, dalam kondisi sekarang, mereka harus lebih waspada.

Tetua Lian mengambil inisiatif, "Hanya beberapa tetua yang akan berangkat untuk memastikan kebenaran ini. Yang lainnya harus tetap di sini untuk menjaga sekte. Aku akan mengurus semuanya sementara kalian pergi."

Li Wei yang awalnya ingin ikut serta pun tersadar akan tugasnya. Ia masih harus menjaga Ling Mei sesuai dengan pesan Xiao Ling. Dengan enggan, ia mundur selangkah dan kembali ke paviliun, meski hatinya masih dipenuhi rasa gelisah.

Akhirnya, para tetua yang terpilih berangkat menuju hutan di utara. Perjalanan mereka dipenuhi keheningan dan kecemasan. Setibanya di tempat tujuan, pemandangan mengerikan menyambut mereka. Bekas pertempuran terlihat jelas—tanah terbakar, pepohonan tumbang, dan darah mengering di bebatuan.

Salah satu tetua melangkah maju, matanya tertuju pada mayat-mayat yang berserakan.

"Lihat, bukankah ini anak buah Shen Mo yang ikut menyerang sekte kita? Mereka terbunuh semua kecuali Shen Mo." kata salah satu tetua.

"Lihat yang itu berbeda, pakaian yang digunakannya juga berbeda." Kata tetua lainnya saat melihat ada satu mayat yang tergeletak dekat dinding batu.

"Lalu bagaimana dengan bagian-bagian tubuh ini?Hanya ledakan berkekuatan sangat besar yang dapat melakukan hal ini." mereka melihat bagian tubuh yang tampak seperti meledak dan bagian-bagiannya terpencar. Dari bentuknya, mereka bisa memperkirakan bahwa ada dua orang yang mengalami nasib serupa. Namun mereka tidak menyadari jika tubuh yang meledak tersebut adalah dua orang yang sudah berada di ranah immortal.

Tiba-tiba, sebuah suara penuh keterkejutan terdengar.

"Ketua Sekte!"

Seorang tetua berteriak saat melihat tubuh tanpa kepala yang tergeletak di antara pepohonan. Seketika suasana berubah mencekam. Para tetua yang lain segera menghampiri dan mengenali jubah serta aksesori yang biasa dikenakan oleh Ketua Sekte mereka.

"Tidak... Tidak mungkin..." salah satu tetua berbisik dengan suara bergetar, sementara yang lain mengepalkan tangan dengan penuh kemarahan.

